BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami sesuatu konsep yang baru, dan atau mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan ketrampilan.

Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori belajar aliran behavioristik dan teori belajar kognitif. Teori belajar behavioristik menekankan pada pengertian belajar merupakan perubahan tingkah laku, sehingga hasil belajar adalah sesuatu yang dapat diamati dengan indra manusia langsung tertuangkan dalam tingkah laku. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi dan Supriono (1991: 121) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Sedangkan teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

  1. Rumusan Masalah
    1. Bagaimana konsep belajar menurut pandangan teori kognitif?
    2. Apa peran teori pembelajaran dalam desain pesan pembelajaran?
    3. Bagaimana penerapan teori kognitif dalam pembelajaran?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Konsep Belajar Menurut Pandangan Teori Kognitif

Teori kognitif merupakan salah satu teori yang paling mendasari penggunaanya dalam proses pembelajaran dari pada teori seperti Behavioristik dan Konstruktifistik. Teori kognitif lebih mementingkan proses belajarnya atau proses menuju pemahaman mengenai sesuatu hal. Berbeda jauh dengan teori Behavioristik yang lebih mementingkan hasilnya.

Para pakar teori kognitif seperti Piaget, Bruner, dan Ausubel memberikan makna tersendiri tentang teori kognitif. Menurut Piaget kegiatan belajar terjadi seturut  dengan pola tahap-tahap perkembangan  tertentu dan umur seseorang, serta melalu proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.

Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah

1. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)

Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya.

2. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun)

Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. (benda padat tenggelam)

3. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun)

Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu, dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran, tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. (tidalk belajar ujiannya jelek)

4. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 tahun)

Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit, mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal-hal yang bersifat abstrak. (korupsi tidak sesuai dengan norma-norma dmasyarakat, sosiologi)

Berdasarkan uraian diatas, Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut.

Teori belajar menurut Bruner

Bruner, melalui teorinya itu (dalam Suherman E., 2003), mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.

Dengan memanipulasi alat-alat peraga, siswa dapat belajar melalui keaktifannya. Sebagaimana  yang dikemukakan oleh Bruner (dalam Suwarsono, 2002;25), belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru di luar (melebihi) informasi yang diberikan pada dirinya. Sebagai contoh, seorang siswa yang mempelajari bilangan prima akan bisa menemukan berbagai hal yang penting dan menarik tentang bilangan prima, sekalipun pada awal mula guru hanya memberikan sedikit informasi tentang bilangan prima kepada siswa tersebut. Teori  Bruner  tentang kegiatan manusia tidak terkait dengan umur atau tahap perkembangan (berbeda dengan  Teori Piaget). Ada dua bagian yang penting  dari teori Bruner (dalam Suwarsono, 2002;25), yaitu :

  1. Tahap-Tahap Dalam Proses Belajar
  2. Teorema-teorema Tentang Cara Belajar dan Mengajar Matematika

Penjelasan tentang kedua bagian tersebut adalah sebagai berikut:

Tahap-Tahap Dalam Proses Belajar

Menurut Bruner, jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan (Misalnya mempelajari suatu konsep Matematika), pengetahuan itu perlu dipelajari  dalam tahap-tahap tertentu, agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut.  Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar  terjadi secara optimal) jika pengetahuan  yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahap, yang macamnya dan urutannya adalah sebagai berikut (dalam Suwarsono,2002;26) :

  1. Tahap enaktif, yaitu  suatu tahap pembelajaran  sesuatu pengetahuan  di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda kongkret atau menggunakan situasi yang nyata.
  2. Tahap Ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pegetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas.
  3. Tahap simbolik, yaitu suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (Abstract symbols yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan), baik simbol-simbol verbal (Misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat) lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak lainnya.

Menurut Bruner, proses belajar akan berlangsung secara optimal jika proses pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini telah dirasa cukup, siswa beralih ke kegiatan belajar tahap kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik, dan selanjutnya, kegiatan belajar itu diteruskan dengan kegiatan belajar tahap ketiga yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik. Sebagai contoh, dalam mempelajari penjumlahan dua bilangan cacah, pembelajaran akan terjadi secara optimal jika mula-mula  siswa mempelajari  hal itu dengan menggunakan benda-benda konkret (Misalnya menggabungkan 3 kelereng dengan 2 kelereng dan kemudian menghitung banyaknya kelereng semuanya). Kemudian kegiatan belajar digunakan dengan menggunakan gambar atau diagram yang mewakili 3 kelereng dan 2 kelereng yang digabungkan tersebut (dan kemudian dihitung banyaknya kelereng semuanya, dengan menggunakan gambar atau diagram tersebut). Pada tahap yang kedua ini bisa juga siswa melakukan penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan visual (visual imagery) dari kelereng-kelereng tersebut. Pada tahap berikutnya, siswa melakukan penjumlahan  kedua bilangan itu dengan menggunakan lambang-lambang bilangan yaitu  3 + 2 = 5 (dalam Suwarsono,2002;27) .

Di SLTP, dalam mempelajari irisan dua himpunan, siswa dapat mempelajari konsep tersebut dengan mula-mula menggunakan contoh nyata (konkret, misalnya dengan mengumpulkan data tentang siswa-siswa yang pergi ke sekolah dengan naik sepeda dan siswa-siswa yang menyukai olahraga basket (sebagai contoh), dan kemudian menentukan siswa-siswa yang pergi ke sekolah dengan naik sepeda dan menyukai  olahraga basket. Keadaan itu kemudian digambarkan dengan diagram venn. Selanjutnya, irisan dua himpunan dapat didefinisikan secara simbolik (dengan lambang-lambang), baik dengan lambang-lambang verbal (kata-kata, kalimat-kalimat) maupun dengan lambang-lambang matematika (Dalam hal ini notasi pembentuk himpunan) (dalam  Suwarsono,2002;25).

Teori belajar  menurut ausubel

Teori pembelajaran Ausubel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

Pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.

Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Cara Pembelajaran Bermakna dengan Menggunakan Peta Konsep :

1. Pilih suatu bacaan dari buku pelajaran

2. Tentukan konsep-konsep yang relevan

3. Urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh.

4. Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep ke konsep yang tidak inklusif di bawah.

5. Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep.

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat relajar.

Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam sekema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.

Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.

Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.

Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.

Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.

Empat type belajar menurut Ausubel , yaitu:

1. Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. (langsung berhadapan dengan bendanya, konkret, siswa langsung menemukan maksud dalam pembelajaran)

2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.

3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.

4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.

Asumsi yang mendasari teori kognitif dalam mendesain pesan pembelajaran

Penerapan teori kognitif berdasarkan pada tiga gagasan sangat mapan dalam ilmu kognitif yakni : asumsi saluran ganda, asumsi kapasitas-terbatas, dan asumsi pemrosesan aktif.

Menurut kriteria intelligibility, lingkungan desain multimedia harus cocok dengan tata cara manusia belajar. Pendeknya, prinsip-prisnsip desain multimedia harus sensitif terhadap sesuatu yang kita ketahui tentang cara orang memproses informasi.

Apa peran teori pembelajaran dalam desain pesan pembelajaran? Keputusan-keputusan tentang cara mendesain pesan pembelajaran selalu mencerminkan konsepsi dasar tentang cara orang belajar, bahkan saat teori pembelajaran yang menjadi dasar itu tidak dinyatakan. Mendesain pesan- pesan pembelajaran itu selalu diatur oleh konsepsi desainernya tentang cara otak manusia bekerja. Misalnya, saat suatu presentasi multimedia terdiri atas satu layar namun dipenuhi oleh banyak kata multiwarna dan gambar yang gemerlapan serta selalu bergerak, maka pilihan itu itu mencerminkan konsepsi desainernya tentang pembelajran manusia. Kalau kasusnya seperti itu, kemungkinan besar konsepsi dasar dari sang desainer adalah manusia memiliki sistem pemrosesan aktif-pasif, single-channel, dan berkapasitas tanpa batas. Lalu, apa yang terjadi dengan konsepsi diatas? Pertama-tama, desain seperti ini tidak memanfaatkan mode-mode presentasi auditori, dan didasarkan pada asumsi single-channel – bahwa semua informasi memasuki sistem kognitif dalam cara-cara yang sama tanpa memedulikan modalitasnya. Desain itu tidak memedulikan modalitas mana – misalnya menyajikan kata-kata sebagai teks atau suara – yang digunkan untuk menyajikan informasi. Pokonya: informasi bisa disajikan tak peduli dengan bagaimanapun caranya. Kedua, dengan menyajikan sebegitu banyak informasi, desain ini didasarkan pada asumsi kapasitas tanpa batas – yakni, manusia bisa menampung jumlah materi yang tanpa batas. Tugas desainer adalah sekedar menyampaikan informasi sebanyak banyaknya pada murid. Ketiga, dengan menyajikan banyak kepingan informasi yang masih saling terisolasi, maka desain seperti ini didasarkan pada asumsi pemrosesan pasif – yakni, manusia bertindak sebagai tape recorder yang bisa menambhakan informasi sebanyak mungkin ke dalam memori mereka. Pihak-pihak yang belajar tidak perlu bimbingan dalam menata dan menalar informasi yang disajikan itu.

Apa yang keliru dengan visi murid sebagai pihak yang memiliki sistem single pannel,  kapasitas tak terbatas, dan pemrosesan pasif? Riset baru-baru ini dalam psikologi kognitif memberikan pandangan yang agak berbeda tentang cara otak manusia bekerja (Bransford, Brown, & Cocking, 1999; Lambert & McCombs, 1998). Jadi, masalah dengan konsepsi pembelajaran yang awam ini adalah bertentangan dengan apa yang diktahui tentang tata cara orang belajar.

Figur 1.1. tiga asumsi bagi teori kognitif tentang desain pesan pembelajaran atau multimedia learning

Dalam bab ini, dibahas tiga asumsi yang mendasari teori kogitif tentang multimedia learning, yakni: dual-channel (saluran ganda), limited-capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing (pemrosesan-aktif). Asumsi-asumsi dirangkum dalam figur 1.1

Asumsi Deskripsi Kutipan terkait
Saluran-ganda Menusia memiliki saluran terpisah untuk memproses informasi visual dan informasi auditori Paivio, 1968; Baddeley, 1992
Kapasitas-terbatas Manusia punya keterbatasan dalam jumlah informasi yang bisa mereka proses dalam masing-masing saluran pada waktu yang sama Baddeley, 1992;Chandler & Sweller, 1991
Pemrosesan-aktif Manusia melakukan pembelajaran aktif dengan memilih informasi masuk yang relevan, mengorganisasikan informasi-informasi itu ke dalam representasi mental yang koheren, dan memadukan representasi mental itu dengan pengetahuan lain Mayer, 1999; Wittrock, 1989

Oleh karena karya sentral multimedia learning berlangsung dalam memori kerja atau working memory, jadi mari kita fokus disana. Memori kerja digunakan untuk penyimpanan sementara dan memanipulasi pengetahuan dalam kesadaran pikiran aktif. Sebagai contoh, dalam membaca kalimat ini, Anda bisa bisa secara aktif berkonsentrasi ke beberapa kata tertentu dalam suatu waktu. Dalam melihat figur 1.2., otak anda mungkin bisa menyimpan image (citra) hanya beberapa kotak dan panah dalam sekali waktu. Jenis pemrosesan ini – Anda melakukannya di alam pikiran sadar – terjadi dalam memori kerja Anda. Sisi kiri kotak berlabel Memori Kerja dalam figur 1.2. mewakili materi mentah yang masuk ke dalam memori kerja; yakni citra visual berupa gambar dan citra suara berupa kata-kata. Hal ini didasarkan pada modalitas indrawi yang biasa disebut sebagai visual dan auditori. Sisi kanan kotak Memori Kerja mewakili pengetahuan yang sudah terkonstruksi di dalam memori kerja – model-model mental verbal dan visual serta keterkaitan diantara mereka. Jadi, ha itu juga didasarkan pada dua mode representasi yang disebut verbal dan pictorial. Tanda panah dari Suara ke Citra mewakili konversi mental dari suara (misalnya, kata-kata “kucing” yang terucapkan) menjadi citra visual (misalnya, citra tentang “kucing”) – yakni saat anda mendengar suara yang berlafal “kucing” maka anda mungkin membentuk gambaran mental tentang kucing. Tanda panah dari Citra ke Suara mewakili konvensi mental atas citra visual (misalnya, gambaran mental tentang kucing) menjadi citra suara (misalnya, bunyi dari kata “kucing”) – yakni, anda mungkin secara mental mendengar kata “kucing” dibunyikan saat anda melihat gambar kucing. Proses ini bisa terjadi dengan asosiasi mental dengan kata-kata “kucing” yang terucapkan bisa memunculkan gambaran mental tentang wujud kucing dan sebaliknya. Pemrosesan kognitif utama yang dipersyaratkan untuk multimedia learning adalah direpresentasikan oleh panah-panah yang berlabel Memilih Citra, Memilih Kata, Menata Citra, Menata Kata, dan Memadukan, yang digambarkan di bagian berikutnya.

Akhirnya, kotak diujung kanan diberi label Memori Jangka Panjang dan saling terkait dengan gudang pengetahuan si murid. Tidak seperti Memori Kerja, memori jangka panjang ini bisa menampung sangat banyak pengetahuan dalam periode yang lama. Namun demikian untuk orang yang secara aktif berpikir tentang materi dalam memori jangka panjang, ia harus dibawa dulu ke memori kerja (seperti diindikasikan lewat tanda panah dari Memori Jangka Panjang ke Memori Kerja).

Sejalan dengan asumsi saluran ganda, Memori Sensori dan Memori Kerja dibagi menjadi dua saluran; Ynag bagian atas menangani suara-suara auditori dan akhirnya representasi verbal. Yang di bagian bawah menangani citra visual dan akhirnya ke representasi pictorial. Dalam acara ini, saya mencoba mengompromikan antara pandangan modalitas sensori/indrawi (yang digunakan untuk menciptakan dua saluran di sisi kiri memori kerja) dan pandangan mode presentasi (yang digunakan untuk menciptakan dua saluran di sisi kanan Memori Kerja).

Sejalan dengan asumsi kapasitas terbatas, memori kerja memang terbatas dalam proses jumlah pengetahuan dalam suatu waktu tertentu. Jadi, hanya sejumlah citra yang bisa ditampung di saluran visual dalam memori kerja pada suatu waktu. Hanya sejumlah kecil suara yang bisa ditampung di saluran auditori dalam memori kerja pada suatu waktu.

Sejalan dengan asumsi pemrosesan aktif, ditambahkan panah-panah untuk menggambarkan proses kognitif memilih pengetahuan yang akan di proses dalam memori kerja (yakni, panah berlabel “memilih” yang bergerak dari materi tersaji ke Memori Kerja), menata materi dalam memori kerja agar menjadi struktur yang koheren (yakni, panah berlabel “menata” yang bergerak dari salah satu bentuk representasi lainnya), dan memadukan pengetahuan yang tercipta ini dengan pengetahuan lainnya termasuk pengetahuan yang diambil dari memori jangka panjang (yakni, panah yang berlabel “memadukan” yang bergerak dari Memori Jangka Panjang ke Memori Kerja serta antara representasi visual dan representasi auditori dalam Memori Kerja).

Figur 1.2. Teori kognitif tentang multimedia pembelajaran

Figur 1.3. Saluran Auditori dan Saluran Visual

Asumsi Saluran-ganda

Asumsi saluran-ganda (dual-channel assumption) beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori. Asumsi saluran-ganda ini dirangkum dalam Figur 1.3 oleh karena dua saluran, figur ini juga dibagi  dua. Figur 1.3 A menunjukan saluran verbal auditori. Figur 1.3 B menunjukan saluran visual pictorial. Manusia memahami suatu informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta menyimpannya dalam memori jangka panjang.

Asumsi Kapasitas-terbatas

Manusia bukan mesin atan super komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan diintegrasikan dengan kapasitas otak.  Semua informasi yang masuk tidak bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.

Asumsi Pemrosesan aktif

Manusia secara aktif melibatkan dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang saling terkait terhadap pengalaman mereka.  Proses kogitif aktif ini meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasukakalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah kapan saja.

  1. Penerapan teori kognitif dalam dessain pesan pembelajaran

Penerapan sesungguhnya ada dalam proses belajar, baik proses belajar dalam kelas ataupun diluar. Terpenting dalam penerapan teori kognitif ini dapat bermakna dan munuju pemahaman sesuai kemampuan individu dalam rentang waktu yang berbeda. Kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prisip sebagai berikut :

  1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda konkrit. Benda nyata sebagai objek belajarnya sehingga memudahkan menuju pemahaman. Misalnya mengenalkan tumbuhan juga sebagai mahluk hidup, diharapan siswa dapat melihat wujud tumbuhan didepannya. Tentunya belajar bukan hanya dalam kelas. Siswa bisa belajar diluar dengan bimbingan guru yang mengajar.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
  4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pemahaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
  5. Pemahan dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
  6. Pemahaman dan retensi siswa akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna informasi yang ada harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, tugas guru adalah menunjukan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
  7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya motivasi, persepsi, kemampuan berfikir, pengetahuan awal, dan sebagainya.

Hakikat belajar menurut teori kognitif yaitu aktifitas belajar yang berkaitan dengan ppenataan informasi, reorganisasi percetual, dan proses internal.

Langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh tokoh bersangkutan yaitu sebagai berikut :

  1. Langkah-langkah pembelajaran menurut Piaget
    1. Menentukan tujuan pembelajaran
    2. Memeilih materi pelajaran
    3. Menentukan topik yang dapat dipelajari oleh siswa secara aktif
    4. Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, simulasi dan sebagainya.
    5. Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang kreatifitas dan cara berfikir siswa.
    6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
    7. Langkah-langkah pembelajaran menurut Bruner:
      1. Menentukan tujuan pembelajaran.
      2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar).
      3. Memilih materi pelajaran.
      4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif.
      5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
      6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik, sampai simbolik.
      7. Melukan penilaian proses dan hasil belajar.
      8. Langkah-langkah  pembelajaran menurut Ausubel :
        1. Menentukan tujuan pembeajaran
        2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa
        3. Memilih materi pelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep.
        4. Menentukan topik-topik dan menampillkannya dalam bentuk advance orgainizer yang akan dipelajari siswa.
        5. Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menarapakannya dalam bentuk nyata atau konkret.
        6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Diantara para pakar kognitif terdapat 3 pakar terkenal yaitu Piaget, Bruner dan Ausubel. Ketiga tokoh aliran kognitif diatas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.

Menurut piaget kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimililasi, akomodasi dan equilibrasi.

Bruner mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan atau informasi, dan bukan ditentukan oleh umur. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap enaktif, ikonik, dan simbolik.

Sementara itu ausubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses ini akan terjadi melaluui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Muhammad Zainal. Teori Belajar Bruner. 2010.     http://www.masbied.com/2010/03/20/teori-belajar-bruner/ 22 Februari 2012

Budiningsih, C. Asri. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Rineka Cipta

Mardhiyanti. 2010. Teori Belajar dari David P http://mardhiyanti.blogspot.com/2010/03/teori-belajar-bermakna-dari-david-p.html  22 Februari 2012

Richard E. Mayer. 2009. Multimedia Learning Prinsip-prinsip dan Aplikasi. Tiga Asumsi Teori Kognitif Multimedia Learning hal. 63-71. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s